AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT SUKU SAMIN
- Sep 02, 2025
- Sundoyo
Seperti yang banyak kita dengar bersama, banyak sekali suku-suku atau komunitas masyarakat yang tersebar di berbagai pelosok wilayah nusantara ini, salah satunya adalah Suku Samin, yang tersebar di sebagian besar wilayah utara Pulau Jawa ini, terutama di Kabupaten Blora. Benar adanya bahwa di wilayah pedalaman kawasan ini banyak didiami sekelompok masyarakat yang agak terpisah dari pemukiman warga lainnya. Sebut saja di wilayah hutan di wilayah Karangpace Desa Klopo Duwur Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora. Mereka ini adalah bagian dari Komunitas Sedulur Sikep atau masyarakat Samin yang menganut ajaran Saminisme, sebuah gerakan perlawanan non-phisik terhadap penjajahan Belanda saat itu yang dipimpin oleh Samin Surosentiko.
Beberapa ajaran yang dikenal dengan mengutamakan nilai kejujuran, kesederhanaan dan nilai kekluargaan yang diwujudkan dalanm prinsip Sedulur Sikep dan cara penyelesaian masalah dengan rembug rukun atau musyawarah. Akan tetapi meskipun memegang teguh nilai luhur tersebut, saat ini sudah mulai terbuka terhadap perkembangan zaman dan teknologi modern, yang dapat membantu dalam pembangunan pertanian dan lainnya.
Adapun pokok Ajaran Sedulur Sikep atau Pedoman Hidup yang ada di Klopo Duwur terkenal dengan sebutan Panca Sesanti (Lima Pedoman Hidup) diantaranya :
1. Seduluran (Persaudaraan)
2. Ora Seneng Memungsuhan ( Toleransi/Cinta Damai )
3. Ora Seneng Rewang (Adil / Tidak berpihak )
4. Ojo Ngrenah Liyan ( jangan memfitnah )
5. Eling Sing Kuwasa ( Berketuhanan )
Selain Pedoman Hidup tersebut ada Aturan Hidup lainnya yang disebut dengan Panca Wewaler ( Lima Aturan Hidup), yakni
1. Tresno sepadane (cinta sesama manusia)
2. Ora nerak wewalerane negoro ( taat dengan aturan negara)
3. Ora nerak sing dudu sakmestine (Berserah pada kehendak)
4. Ora cidro ing janji ( tidak ingkar janji)
5. Ora sepoto nyepatani (Tidak mudah ucap sumpah serapah)
Luar biasa tata kehidupan bermasyarakat bagi mereka, sehingga kehidupannya senantiasa tenteram dan selalubisa hidup berdampingan, tanpa konflik yang berarti atau berkepanjangan, karena mereka selalu memegang teguh prinsip bermasyarakat dan bersosialisasi tanpa pamrih.